PADANG — Intensitas curah hujan ekstrem yang berada di luar kebiasaan normal kembali menguji ketahanan infrastruktur jalan nasional di Sumatera Barat. Ancaman longsor tebing yang mendera ruas vital Tapan–Batas Jambi memicu respons cepat serta kesiagaan penuh dari satuan kerja terkait.

Hingga awal November 2026, tim lapangan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.4 Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Sumatera Barat, di bawah komando Gina Lamria Indriati Tampubolon, S.T., terus memperketat pengawasan dan kesiagaan (standby) di lokasi rawan. Langkah ini dilakukan menyusul terjangan material lumpur dan longsoran tanah yang berulang kali menutup badan jalan akibat hujan deras.

Alih Fungsi Lahan Jadi Akar Masalah

Berdasarkan analisis teknis di lapangan, kerentanan longsor tebing atas di ruas Tapan–Batas Jambi dipicu oleh perubahan fungsi lahan (land-use change) secara masif.

Kawasan perbukitan yang semestinya berfungsi sebagai penyangga ekologis dengan vegetasi berakar dalam, kini banyak beralih fungsi menjadi areal perkebunan. Salah satu titik paling krusial berada di KM 228+100, di mana perbukitan di sekitar lokasi tersebut telah berubah menyeluruh menjadi perkebunan pisang.

Perubahan vegetasi ini berdampak langsung pada hilangnya kestabilan tanah (soil stabilization) dan fungsi hidrologis dalam menyerap air hujan. Akibatnya, setiap kali hujan deras turun, struktur tanah menjadi sangat jenuh air (soil saturation), kehilangan kohesi, dan berujung pada longsoran lumpur yang menutupi badan jalan nasional.

Pengerahan Alat Berat dan Pengamanan Jalur

Menghadapi kondisi darurat tersebut, tim PPK 2.4 Sumbar langsung bergerak cepat. Sejak material longsor menggenangi badan jalan, unit alat berat berupa wheel loader dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pembersihan kilat guna memulihkan arus lalu lintas.

Gina Lamria Indriati Tampubolon memastikan bahwa seluruh personel teknik dan armada alat berat tetap disiagakan 24 jam di lokasi guna mengantisipasi potensi longsor susulan, mengingat cuaca ekstrem masih melanda wilayah Sumatera Barat.

Imbauan untuk Warga Sekitar

Menyikapi kejadian berulang ini, pihak PPK 2.4 PJN II Sumbar turut menyampaikan imbauan terbuka kepada masyarakat, khususnya para pemilik lahan di jalur perbukitan. Warga diimbau untuk mempertimbangkan kembali aspek risiko lingkungan dan keselamatan infrastruktur dalam pemanfaatan lahan. Di tengah anomali cuaca saat ini, mitigasi dini terhadap daya dukung lingkungan dinilai sangat krusial demi mencegah bencana susulan dan menjamin keselamatan bersama.(*)
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top